Peristiwa bulan terbelah menjadi dua yang dapat disaksikan oleh mata telanjang, telah menyalahi hukum alam fisika ataupun tidak, sukar di sangkal, sedang peristiwa itu nampaknya kekurangan bukti-bukti sejarah yang meyakinkan. Pada pihak lain, tiada seorangpun dapat memberanikan diri mengakui telah menyelami semua rahasi alam. Adalah mustahil bahwa peristiwa yang meluputi bagian besar wilayah bumi serupa itu, masih tetap tidak dimaklumi kalangan peneropong-peneropong bintang (para ahli observatori) di dunia ini, atau sama sekali tidak tercatat di dalam buku-buku sejarah. Akan tetapi, oleh karena peristiwa itu sungguh tercantum di dalam kitab-kitab hadis yang sangat terpercaya, seperti Bukhari dan Muslim, dan sebab dituturkan secara berkesinambungan dalam riwayat –riwayat yang sumbernya dapat dipercaya, pula diriwayatkan oleh sahabat Rasulallah saw yang cendikia seperti Ibnu Mas’ud ra., peristiwa itu sungguh-sungguh menunjukkan bahwa gejala alam yang luar biasa pengtingnya itu niscaya telah terjadi di masa Rasulullah s.a.w.
Beberapa ahli tafsir Al-Quran diantaranya Razi, telah berusaha menguraikan masalah pelik itu dengan menyatakan bahwa peristiwa itu adalah gerhana bulan. Imam Ghazali dan Syah Waliullah juga berpegang pada pendapat bahwa pada hakikatnya bulan tidak terbelah, melanikan Tuhan telah mengatur demikian rupa sehingga bulan nampak kepada orang-orang yang menyaksikannya sebagai itu semacam gerhana bulan. Tetapi bagaimanapun, bila kita mengingat akan kuatnya bobot bahasa yang dipergunakan Alquran berkenaan dengan peristiwa itu, agaknya lebih daripada gerhana bulan biasa. Peristiwa itu sungguh-sungguh merupakan mukjizat besar yang ditampakkan oleh Rasulullah s.a.w. atas desakan orang-orang kafir (Bukhari dan Muslim). Agaknya peristiwa itu merupalan suatu kasyaf Rasulullha s.a.w. yang beberapa sahabat dan beberapa orang kafir juga dibuat ikut serta di dalamnya. Tidak ubah halnya seperti peristiwa tongkat Nabi Musa berubah menjadi ular pun adalah kasyaf (rukya), yang para ahli sihir dibuat ikut serta di dalamnya. Atau boleh jadi seperti halnya pemukulan air laut yang dilakukan oleh Nabi Musa as. Dengan tongkat beliau, bertepatan dengan saat pasang surut, dan dengan demikian merupakan suatu mukjizat. Begitu pula boleh jadi Tuhan telah memerintahkan Rasulullah s.a.w. agar memperlihatkan mukjizat pembelahan bulan, pada saat ketikan suatu benda langit mengambil posisi di depan bulan demikian rupa sehingga bulan nampak kepada orang-orang yang menyaksikan sebagai terbelah menjadi dua bagian. Tetapi keterangan yang paling dapat diterima dan juga mengandung makna keruhanian yang sangt mendalam, terletak pada kenyataan, bahwa bulan adalah lambang kebangsaan orang Arab dan lambang kebangsaat orang-orang Parsi.
Tatkala Situ Syafiyah r.a., anak perempuan Huyay bin Akhtab, pemimpin orang-orang Yahudi dan Khaibar menceritakan kepada ayahnyam bahwa beliau melihat mimpi, bulan telah jatuh ke atas pangkuan beliau, sang ayah menampar muka beliau seraya berkata, bahwa rupanya beliau mengingingkan kawin dengan pemimpin bangsa Arab. Sesudah Khaibar jatuh, impian Siti Syafiyah menjadi sempurna, ketika beliau dipersunting oleh Rasulullah s.a.w. (Zurqani & Usud al-Ghabbah).
Begitu pula Siti ‘Aisyah pernah melihat dalam mimpi, bahwa tiga buah bulan jatuh ke dalam kamar pribadi beliau dan impian itu telah menjadi kenyataan ketika di sana jasad Rasulullah s.a.w., Abu Bakar r.a., dan Umar r.a., berturut-turut dikebumikan (Mu’athatha, Kitab al-Jana’iz). Makna simbolis bagi kata qomar, ayat ini mengandung arti, bahwa saat kehancuran kekuasaan politik mereka, yang karenanya orang-orang kafir telah diperingatkan dalam 53:58, telah tiba. Kata saat dalam hal ini, mungkin mengisyaratkan kepada pertempuran Badar, yang di dalam pertempuran itu hamper semua kepala dan pemimpin kabilah Qiraisy terbunuh dan dasar kehancuran mutlak kekuatan mereka telah diletakkan. Dengan demikian ayat ini merupakan nubuatan hebat, yang telah menjadi genap dengan ajaibnya kira-kira dalapan atau Sembilan tahun sesudah nubuatan itu diumumkan. Teristimewa pula, menurut beberapa penulis, ungkapan bahasa Arab, “insyaqqa al-qamaru” berarti, bahwa saat kehancuran kekuasan kaum Quraisy telah tiba, dan kemudian akan menjadi nampak bahwa Rasulullah s.a.w. seorang nabi Allah sejati.
0 comments:
Post a Comment