I. Yang Berhak Menjadi Imam Shalat
اِجْعَلُوْا اَئِمَّتَكُمْ خِيَارَكُمْ فَاِنَّهُمْ وَفُدُكُمْ فِيْمَا بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ رَبِّكُمْ
"Jadikan olehmu untuk Imam kamu orang yang terpilih di antara kamu, karena mereka adalah perantara kamu dengan Tuhan kamu" (Darul Quthni)
وَعَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رض قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلعم : يَؤُمُّ القَوْمَ اَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ تَعَالَى ، فَاِنْ كَانُوْا فِى الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَاَعْلَمُهُمْ
بِالسُّنَّةِ ، فَاِنْ كَانُوْا فِى السُّنَّةِ سَوَاءً فَاَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً ، فَاِنْ كَانُوْا فِى الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَاَقْدَمُهُمْ سِلْمًا . وَفِى رِوَايَةٍ : سِنًّا . وَلاَ يَؤُمَّنَّ
الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِى سُلْطَانِهِ ، وَلاَ يَقْعُدْ فِى بَيْتِهِ عَلىَ تَكْرِمَتِهِ اِلاَّ بِاِذْنِهِ Dari Ibnu Mas'ud ra. dia berkata : Rasulullah saw berkata : Orang yang paling pandai membaca Al-Qura'an yang akan menjadi Imam Bangsanya. Bila kepandaian mereka dalam bacaan Al-Qur'an sama maka yang paling mengerti tentang hadist. Bila pengertian mereka tentang hadist sama maka yang paling dahulu hijrah. Bila waktu hijrah bersamaan maka yang paling dahulu masuk Islam. Dalam riwayat lain yang paing tua.
"Jangan sekali-kali menjadi Imam atas laki-laki dalam tanah kekuasaan laki-laki itu. Dan jangan duduk di atas tempat kehormatannya yang ada dalam rumahnya kecuali seizin dia"
(Muslim Tirmidzi Nasa'i Ibnu Majah Abu Daud Jilid I No. 55o, Hal 392).
II. Imam Yang Tidak Disenangai Jamaah
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو : اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُوْلُ : ثَلاَثَةٌ لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُمْ صَلاَةً : مَنْ تَقَدَّمَ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُوْنَ, وَرَجُلٌ اَتَى الصَّلاَةَ دِبَارًا, وَالدِّبَارُ اَنْ يَأْتِيَهَا بَعدَ اَنْ تَفُوْتَهُ, وَرَجُلٌ اِعْتَبَدَ مُحَرَّرَهُ
"Dari Abdullah bin Amr ra bahwa Rasulullah saw sering bersabda : "Tiga golongan orang yang tidak diteruma sahalatnya yaitu :
- Orang yang maju ke depan untuk menjadi imam, sedangkan mereka membenci mereka
- Orang yang biasa mengerjakan shalat belakangan yaitu mengerjakan setelah shalat berlalu
- Orang yang memperbudak seorang budak
III. Apakah Pendatang Menjadi Imam Shalat Diperbolehkan ?
عَنْ اَبِى عَطِيَّةَ وَهُوَ الْعُقَيْلِىُّ, مَوْلاَهُمْ قَلاَ : كَانَ مَالِكِ بْنُ حُوَيْرِثٍ يَأْتِيْنَا اِلَى مُصَلاَّنَا هَذَا, فَاُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ, فَقُلْنَالَهُ : تَقَدَّمْ فَصَلِّهْ,
فَقَالَ لَنَا : قَدَّمُوْا رَجُلاً مِنْكُمْ يُصَلَّى بِكُمْ وَسَاُحَدِّثُكُمْ لِمَ لاَ اُصَلِّى بِكُمْ ؟ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : مَنْ زَارَ قَوْمًا
فَلاَيَؤُمَّهُمْ رَجُلٌ مِنْهُمْ
"Dari Abu Athiyah salah seorang maula di antara kamu dia berkata : Pernah Malik bin Huwarinis ra datang berkunjung ke mushola kami ini. Lalu bersiap shalat dibacakan iqomat. Maka kami berkata kepadanya : Majulah salah seorang di antara kamu untuk mengerjakan shalat bersama kamu lalu aku akan mengikuti kepadamu mengapa tidak akan mengerjakan shalat bersama kamu (sebagai imam) yaitu aku pernah mendengar Rasulullah saw : Barang siapa berkunjung kepada suatu kaum maka janganlah dia menjadi imam mereka, tapi hendaklah salah seorang di antara mereka yang menjadi imam (shalat) mereka.
(Abu Daud Jilid I. No. 567, Hal 402. Hadist ini dikeluarkan oleh Tirmidzi dan Nasai)
0 comments:
Post a Comment