Keagungan Dan Kerendahan Hati Rasulullah saw

Wednesday, March 30, 2011
        Kedua nama Nabi Suci saw yang berberkat yaitu Muhammad dan Ahmad memiliki dua keunggulan yang berbeda. Muhammad mengandung arti yang amat dipuji dan menggambarkan keagungan dan kebesaran serta menyiratkan seseorang yang dicintai karena hanya yang dicintailah yang selalu dipuji-puji. Adapun kata Ahmad menyiratkan seseorang yang mencintai karena merupakan bagian dari seorang pencinta untuk memuji dan ia selalu memuji sosok yang dikasihinya. Jika Muhammad menggambarkan keagungan dan kebesaran maka Ahmad menggambarkan kerendahan hati.
        Kehidupan beliau sebagai seorang Nabi terbagi dalam dua bagian, sebagian dihabiskan di Mekah untuk jangka waktu tigabelas tahun dan sebagian lainnya di Medina yang memakan waktu sepuluh tahun. Kehidupan beliau di Mekah menggambarkan segi nama Ahmad dari sosok beliau. Jangka waktu tersebut banyak dihabiskan dalam meratap dan memohon pertolongan di dalam doa. Barangsiapa yang memahami periode kehidupan Mekah dari beliau tentunya mengetahui betapa ratapan dan permohonan doa yang dilakukan beliau saat itu yang tidak ada padanannya pada pencinta lain yang sedang mencari kekasihnya. Ratapan beliau bukanlah untuk dirinya pribadi tetapi karena kesadaran beliau akan kondisi dunia pada saat itu. Zaman itu penyembahan Allah SWT telah sirna sedangkan Dia telah menanamkan keimanan dalam jiwa beliau yang memberikan kegembiraan dan kesukaan. Dengan sendirinya beliau ingin menyampaikan kegembiraan dan kasih ini kepada dunia, namun ketika beliau menyadari kondisi daripada dunia serta kemampuan dan fitrat manusia saat itu maka beliau menghadapi rintangan yang amat besar. Beliau menangisi kondisi dunia ini sedemikian rupa sehingga nyawa beliau pun terancam. Hal ini diindikasikan dalam ayat :
             “Boleh jadi engkau akan membinasakan dirimu sendiri dari dukacita karena mereka tidak mau beriman”. (Asy-Syuara, 26 : 4).
              Periode ini merupakan kehidupan berdoa beliau dan menjadi manifestasi dari nama beliau sebagai Ahmad. Setelah itu beliau mengkonsentrasikan diri secara agung dan konsentrasi ini menunjukkan efeknya pada kehidupan beliau di Medina ketika signifikasi nama Muhammad diungkapkan sebagaimana dinyatakan dalam ayat :
           “Mereka itu berdoa untuk kemenangan dan binasalah setiap musuh kebenaran yang merajalela lagi keras kepala itu”. (Ibrahim, 14 :16). {Malfuzat, vol. II, hal. 178-179}.

Pandangan Ahlussunnah wal Jamaah Tentang Kedatangan Nabi Isa alaihissalam

Pandangan ahlussunnah wal jamaah tentang kedatangan Nabi Isa alaihissalam yang dirujuk/dikutip dari buku Kemunculan Nabi Isa, Imam Mahdi & Dajal, karya Syeikh Mutawalli Sya’rawi, terjemahan, halaman 25 s/d 28, Qultum Media, 2006, menjelaskan sebagai berikut:

Dalam kitab Al-'Aqiidah Ath-Thahaawiyah, Imam Ath-Thahawi berkata, "Dan kami beriman kepada tanda-tanda kiamat yang di antaranya adalah munculnya Dajjal dan turunnya Isa putra Maryam a.s. dari langit." 

Dalam Maqaalaat Al-Islamiyiin, Abul Hasan Al-Asy'ari berkata, "Di antara sejumlah keimanan yang diyakini ahli hadits dan sunnah adalah: Beriman dengan menetapkan Allah, para malaikat, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya dan apa-apa yang datang dari Allah dan apa-apa yang diriwayatkan para perawi yang tsiqah dari Nabi s.a.w. tanpa mengingkari semua itu sedikit pun perkataan ini sampai dan membenarkan keluarnya Dajjal dan sesungguhnya Isa putra Maryam akan membunuhnya." 

Abu Muhammad Abdullah bin Abi Zaid Al-Qairawani Al-Maliki dalam risalahnya yang masyhur, ia berkata, "Dan beriman berdasarkan kabar yang tsabit tentang keluarnya Dajjal dan turunnya Isa a.s. untuk menegakkan hukum yang adil dan ia akan membunuh Dajjal ... " 

Abu Ahmad bin Al-Husain Asy-Syafi'i yang lebih dikenal dengan nama Ibnul Haddad dalam Kitab 'Aqiidahnya, ia berkata, "Tanda-tanda kiamat di mulai dari Dajjal, turunnya Isa a.s., keluarnya asap, Oabbah (sejenis binatang berkaki empat), matahari terbit dari arah Barat dan tanda-tanda lain berdasarkan sumber hadits yang shahih adalah sesuatu yang hak."

Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam Kitab 'Aqiidah-nya yang masyhur, ia berkata, "Wajib beriman kepada apa yang telah disampaikan Rasulullah s.a.w. sepanjang proses periwayatannya shahih, baik itu berhubungan dengan alam nyata maupun alam metafisik. Kami mengetahui bahwa apa yang telah disampaikan beliau itu adalah hak dan benar adanya sampai pada pernyataannya di antara tanda-tanda kiamat adalah: keluarnya Dajjal, turunnya Isa putra Maryam a.s. dan ia membunuh Dajjal, keluarnya Ya'juj Ma'juj, matahari terbit dari arah Barat, keluarnya Oabbah dan tanda-tanda yang lain berdasarkan hadits yang shahih." 

Ibnu Taimiyah berkata, "Ada suatu masalah antara pendapat Isa putra Maryam masih hidup (sampai sekarang), karena Allah mengangkat Isa dengan jasad dan ruhnya, dengan firman Allah, "Sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu." (QS. Ali Imran [3]: 55). Maksudnya Mutawaffika adalah Allah telah mematikanmu. Begitu pula telah tsabit kabar yang menyatakan bahwa Isa akan turun di menara putih di sebelah timur Damaskus, lalu Isa a.s. membunuh Dajjal, menghancurkan salib, membunuh babi, menggugurkan kewajiban membayar pajak dan hukum yang adil lagi bijaksana. Makna lafazh dalam ayat Tawaffa adalah Al-Istaifa' (bisa berarti menyampaikan sampai ajal), atau berarti meninggal, atau bisa jadi berarti tidur. Sehingga, makna suatu lafazh bergantung pada lafazh yang mengiringinya sehingga dapat disesuaikan artinya." 

Dalam Syarh Shahiih Muslim, Al-Qadhi Iyadh berkata, "Turunnya Isa a.s. dan keberhasilannya membunuh Dajjal adalah hak dan benar menurut Ahlu Sunnah karena hal tersebut bersumber dari banyak hadits yang shahih. Tidak ada dasar bagi akal dan syariat untuk mengingkarinya, sehingga wajib hukumnya untuk menetapkan kebenarannya. Namun sebagian kaum Mu'tazilah, kaum Jahmiyah dan orang-orang yang sependapat dengan mereka telah mengingkari bahwa Isa a.s. akan turun ke bumi lagi. Mereka menyangka bahwa semua hadits yang mengabarkan tentang turunnya Isa tidak bisa diterima. Dasar mereka adalah firman Allah, “Dan penutup Nabi-nabi” (QS. Al-Ahzaab [33]: 40) Rasulullah s.a.w. juga telah bersabda, “Tidak ada Nabi setelahku” Dan Ijma' kaum muslimin bahwa tidak akan ada lagi Nabi setelah Nabi kita Muhammad s.a.w., dan syariat beliau akan berlaku terus sampai kiamat tanpa ada yang menasakhnya." Cara mengambil dalil mereka dari ayat, hadits dan Ijma' ini adalah fasid (rusak atau tidak benar). Karena bukanlah maksud turunnya Isa itu sebagai Nabi dengan membawa syariat baru dengan menasakh syariat yang dibawa beliau. Dalam hadits-hadits tentang Isa a.s. turun ke bumi lagi tidak ada yang mengindikasikan kepada hal sebagaimana yang mereka pahami, bahkan semua hadits shahih ini dan hadits-hadits di depannya dalam Kitab Al-Iman dan yang lain telah mengabarkan bahwasanya Isa akan turun dengan hukum yang bijaksana dari syariat kita dan menghidup-hidupkannya kembali setelah ditinggalkan manusia."

Memahami referensi di atas mengindikasikan bahwa ahlussunnah wal jamaah sepakat tentang kedatangan kembali nabi Isa alahissalam di akhir jaman bukanlah nabi Isa alaihissalam yang dahulu pernah datang bagi Bani Israil. Namun nabi Isa alaihissalam akhir jaman, tetap berpangkat nabi yang mengemban sejumlah tugas dan melaksanakan syari’at Islam. Pemahaman ini mengkategorisasikan kepada seseorang atau segolongan orang yang meyakininya termasuk dalam golongan ahlussunnah wa jamaah

Dalam kasus Ahmadiyah, dengan mengenali pemahaman mereka tentang persoalan ini secara mendalam, maka mereka termasuk dalam golongan ahlussunnah wal jamaah atau dalam bahasa populer sebagai Islam Sunni, bukan Islam Syiah. Dengan demikian, ketika ada penggolongan baru dengan menyebut Islam Ahmadiyah bisa jadi akan menimbulkan persoalan baru, karena sejatinya mereka adalah ahlussunnah wal jamaah yang meyakini secara total, khususnya kepada nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, keyakinannya tanpa reserve. Apa yang disabdakan oleh nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam selalu diyakini mereka sebagai suatu kebenaran nubuwatan, apalagi hadist-hadist yang telah menjadi kenyataan. Perbedaanya adalah ketika menilai suatu kenyataan, bahwa sejumlah besar golongan Islam Sunni masih belum melihat nabi Isa alaihisslamam di akhir jaman telah datang sebagai kenyataan berada ditengah-tengah mereka.

Wallahualam bisshawab, semoga urun rembug ini bisa menjadi perenungan bersama.

Petunjuk Imam Shalat Dari Rasulullah SAW

I. Yang Berhak Menjadi Imam Shalat

 
اِجْعَلُوْا اَئِمَّتَكُمْ خِيَارَكُمْ فَاِنَّهُمْ وَفُدُكُمْ فِيْمَا بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ رَبِّكُمْ

"Jadikan olehmu untuk Imam kamu orang yang terpilih di antara kamu, karena mereka adalah perantara kamu dengan Tuhan kamu" (Darul Quthni)

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رض قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلعم : يَؤُمُّ القَوْمَ اَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ تَعَالَى ، فَاِنْ كَانُوْا فِى الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَاَعْلَمُهُمْ 
بِالسُّنَّةِ ، فَاِنْ كَانُوْا فِى السُّنَّةِ سَوَاءً فَاَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً ، فَاِنْ كَانُوْا فِى الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَاَقْدَمُهُمْ سِلْمًا . وَفِى رِوَايَةٍ : سِنًّا . وَلاَ يَؤُمَّنَّ 
الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِى سُلْطَانِهِ ، وَلاَ يَقْعُدْ فِى بَيْتِهِ عَلىَ تَكْرِمَتِهِ اِلاَّ بِاِذْنِهِ 

Dari Ibnu Mas'ud ra. dia berkata : Rasulullah saw berkata : Orang yang paling pandai membaca Al-Qura'an yang akan menjadi Imam Bangsanya. Bila kepandaian mereka dalam bacaan Al-Qur'an sama maka yang paling mengerti tentang hadist. Bila pengertian mereka tentang hadist sama maka yang paling dahulu hijrah. Bila waktu hijrah bersamaan maka yang paling dahulu masuk Islam. Dalam riwayat lain yang paing tua.

"Jangan sekali-kali menjadi Imam atas laki-laki dalam tanah kekuasaan laki-laki itu. Dan jangan duduk di atas tempat kehormatannya yang ada dalam rumahnya kecuali seizin dia"
(Muslim Tirmidzi Nasa'i Ibnu Majah Abu Daud Jilid I No. 55o, Hal 392).


II. Imam Yang Tidak Disenangai Jamaah


عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو : اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُوْلُ : ثَلاَثَةٌ لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُمْ صَلاَةً : مَنْ تَقَدَّمَ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُوْنَ, وَرَجُلٌ اَتَى الصَّلاَةَ دِبَارًا, وَالدِّبَارُ اَنْ يَأْتِيَهَا بَعدَ اَنْ تَفُوْتَهُ, وَرَجُلٌ اِعْتَبَدَ مُحَرَّرَهُ


"Dari Abdullah bin Amr ra bahwa Rasulullah saw sering bersabda : "Tiga golongan orang yang tidak diteruma sahalatnya yaitu :
  1. Orang yang maju ke depan untuk menjadi imam, sedangkan mereka membenci mereka
  2. Orang yang biasa mengerjakan shalat belakangan yaitu mengerjakan setelah shalat berlalu
  3. Orang yang memperbudak seorang budak
( Abu Daud Jilid I. No. 564, Hal 400-401)


III. Apakah Pendatang Menjadi Imam Shalat Diperbolehkan ?


عَنْ اَبِى عَطِيَّةَ وَهُوَ الْعُقَيْلِىُّ, مَوْلاَهُمْ قَلاَ : كَانَ مَالِكِ بْنُ حُوَيْرِثٍ يَأْتِيْنَا اِلَى مُصَلاَّنَا هَذَا, فَاُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ, فَقُلْنَالَهُ : تَقَدَّمْ فَصَلِّهْ, 
فَقَالَ لَنَا : قَدَّمُوْا رَجُلاً مِنْكُمْ يُصَلَّى بِكُمْ وَسَاُحَدِّثُكُمْ لِمَ لاَ اُصَلِّى بِكُمْ ؟ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : مَنْ زَارَ قَوْمًا 
فَلاَيَؤُمَّهُمْ رَجُلٌ مِنْهُمْ


"Dari Abu Athiyah salah seorang maula di antara kamu dia berkata : Pernah Malik bin Huwarinis ra datang berkunjung ke mushola kami ini. Lalu bersiap shalat dibacakan iqomat. Maka kami berkata kepadanya : Majulah salah seorang di antara kamu untuk mengerjakan shalat bersama kamu  lalu aku akan mengikuti kepadamu mengapa tidak akan mengerjakan shalat bersama kamu (sebagai imam) yaitu aku pernah mendengar Rasulullah saw : Barang siapa berkunjung kepada suatu kaum maka janganlah dia menjadi imam mereka, tapi hendaklah salah seorang di antara mereka yang menjadi imam (shalat) mereka.
(Abu Daud Jilid I. No. 567, Hal 402. Hadist ini dikeluarkan oleh Tirmidzi dan Nasai)