Rindu Pemimpin Asketis

Tuesday, September 10, 2013
Sumber : REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Kusnandar SThI
 
Suatu hari Rasulullah SAW tengah tidur beralaskan pelepah kurma. Sehingga bekasnya terlihat di badan beliau. Sahabat Umar bin Khathab datang mengunjunginya. Ketika Umar melihat keadaan Nabi SAW demikian Umar menangis.

Kemudian Rasulullah bangun, “Mengapa engkau menangis?” Tanya Rasulullah SAW kepada Umar bin Khathab.

“Aku ingat kaisar dan kekuasaannya, sedangkan engkau adalah utusan Tuhan. Tetapi engkau hanya tidur beralaskan tikar.” jawab Umar sembari menangis.

“Apa engkau tidak ridha jika mereka memiliki dunia, sedangkan kita memiliki akhirat,” sabda Rasulullah SAW tegas.

Maka turunlah ayat ke-20 surat Alinsan, “Dan apabila engkau melihat keadaan di sana (surga), niscaya engkau akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar.”

Suatu ketika sepulang dari medan peperangan. Rasulullah dan para sahabatnya, disambut bahagia oleh kaum muslim di Madinah. Seorang penjual air hendak menyalami tangan Rasulullah, tapi Nabi SAW menolaknya. Jusru Nabi sendiri yang mengambil tangannya. Saat bersentuhan, Nabi merasakan hal aneh pada tangannya. Lalu Nabi SAW melihat tangannya sangat kasar sekali.

“Kenapa tanganmu kasar sekali?” Tanya Nabi Muhammad. “Pekerjaan saya membelah batu setiap hari, wahai Rasulullah,” jawabnya. “ Lalu pecahan batu itu saya jual ke pasar dan uangnya saya gunakan untuk menafkahi keluarga,” sambungnya.

Kemudian Rasulullah mencium tangan penjual air itu sembari berkata,” inilah tangan yang tak akan pernah disentuh api neraka selama-lamanya.”

Melihat kisah di atas yang mencerminkan kesederhanaan dan kecintaan Nabi Muhammad SAW kepada rakyatnya, kita ingin menangis seperti sahabat Umar bin Khathab. Menangis karena haru dan rindu. Haru, karena sangat langka manusia seperti beliau di permukaan bumi ini. Padahal beliau adalah kepala negara dan utusan Tuhan. Sebagai kepala negara tentunya beliau bisa hidup bergelimangan harta.

Rindu, karena kita berharap ada pemimpin, pejabat dan politisi di negeri ini menjadikan Rasulullah sebagai teladan. Pemimpin yang hidupnya asketis, yakni yang mempraktikkan kesederhanaan, kejujuran, kerelaan berkorban, tidak menumpuk kekayaan, serta pemimpin yang merasakan penderitaan, beban dan kesulitan rakyatnya.

Kita rindu pemimpin yang menegakan hukum tanpa pandang bulu. Pejabat yang adil dan bijaksana. Hubungan pemimpin dengan rakyatnya harusnya seperti diilustrasikan Rasulullah, sebagai pengembala ternak yang setiap saat harus melindungi gembalaanya.

“Setiap kalian adalah pengembala (pemimpin), dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas pengembalaannya (kepemimpinannya),” seru Nabi SAW. (HR Bukhori, Muslim)

Di Indonesia, keserakahan para pejabat merajalela. Praktik KKN dan suap marak. Para pejabat tanpa merasa malu melakukan korupsi miliaran rupiah, memanipulasi dan membohongi rakyat. Uang rakyat yang dikumpulkan rakyat untuk membangun Negara, malah dirampok wakil rakyat demi kepentingan pribadi dan golongannya. Ironinya, perilaku borok tersebut justru dilakukan oknum berpendidikan tinggi. Sungguh terlalu!

Dengan petikan kisah di atas, kita dapat mengambil hikmahnya dan berharap para pemimpin negeri ini, dan para wakil rakyat baik di tingkat pusat hingga daerah, menjadi pemimpin asketis, serta menjadikan Rasulullah sebagai teladan. Aamiin.

ManifestasiI Rukun Islam Pada Pandawa Lima

Sunday, September 25, 2011
oleh : Abdul Rozak

Islam adalah nama agama Allah SWT yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Nama Islam bukan pemberian dari Nabi Muhammad SAW dan bukan pula pemberian para pengikut agama Islam, tetapi nama Islam itu adalah pemberian dari Allah SWT (QS, 5 : 3; QS, 3 : 86), sedangkan para pengikut agama Islam disebut Muslimun (QS, 22 : 79) bahkan Nabi Muhammad SAW sendiri juga disebut seorang Muslim (QS, 6 : 164). Agama ini adalah agama yang terakhir diturunkan ke dunia ini, karena itu bersifat universal, menjelaskan segala sesuatu dan paripurna ajarannya.
 
Agama bahasa Arabnya “diin” atau “millah”. Kata diin makna aslinya ketaatan, hukum, dll. Adapun millah makna aslinya adalah perintah. Millah terutama sekali bertalian dengan Nabi, yang kepadanya agama itu diwahyukan, sedang diin bertalian dengan orang yang menganut agama itu (Al-Mufradat fi ghoribil Quran). Adapun Islam artinya masuk dalam “silm”; kata “salm” atau “silm”, dua-duanya berarti damai (Al-Mufradat fi ghoribil Quran). Dua perkataan ini digunakan oleh Al-Quran dalam arti damai (QS, 2 : 209 dan QS, 8 : 62). Jadi agama Islam itu adalah agama yang diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk umat manusia agar mengenal dan taat kepada-Nya dalam satu jamaah yang dipimpin beliau atau Khalifah, pengganti beliau supaya iman  mereka terpelihara dan memperoleh kedamaian serta ridha-Nya (QS, 5 : 4). Agama ini membicarakan segala perkara (QS, 97 : 5) baik dalam urusan duniawi maupun urusan ukhrawi (QS, 2 : 201), misalnya tentang nabi-nabi dan raja-raja (QS, 5 : 21) dan orang yang beragama Islam diperintah berdoa agar dibimbing di jalan yang benar untuk mendapatkan kenikmatan dan dihindarkan  dari sikap yang menyebabkan Allah SWT murka atau agar dihindarkan dari jalan yang sesat (QS, 1 : 6-7). Agama ini dijaga kesuciannya (QS, 15:10), oleh karena itu setelah Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia ini, Allah Ta‘ala tidak menurunkan agama lagi dan menolak pilihan orang yang memilih selain agama Islam, akibatnya ia akan tergolong orang-orang yang merugi (QS, 3 : 86).
 
Mengingat kesempurnaan Agama Islam dan penjagaan kesucian Al-Quran, sebagai kitab suci Agama ini, maka para Nabi yang diutus sebelum Nabi Muhammad SAW menyampaikan kabar-gaib kepada umatnya bahwa kelak dikemudian masa Nabi pembawa Islam tersebut akan datang di tengah-tengah mereka dan mereka harus menyambut dan mengikutinya.
 
Diantara agama samawi yang menyampaikan kabar-gaib ini adalah agama Nasrani, Yahudi, Kong Hucu dan agama Hindu. Kabar-gaib dalam agama Hindu tersebut dikemas  dalam bentuk kisah Ramayana dan Mahabarata. Dua kisah tersebut telah menyebar di seluruh dunia termasuk di Indonesia.
 
Para Wali di Jawa, teristimewa Sunan Kalijaga mempunyai andil besar dalam mensosialisasikan kedua kisah tersebut. Kedua kisah tersebut  beliau kemas dalam bentuk pertunjukan wayang kulit yang dapat menghibur masyarakat sehingga mudah difahami dan dapat membentuk watak serta perilaku penggemarnya.
 
Wayang kulit bentuknya semisal karikatur yang tidak mencerminkan manusia dan dipertunjukan oleh seorang Dalang dengan diiringi musik yang diberi nama gamelan sehingga suasananya nampak hidup dan menyenangkan. Jadi, kisah wayang kulit yang dipertunjukan  ini  berfungsi sebagai hiburan sekaligus membentuk watak masyarakat yang menyaksikan. Hal ini membuktikan bahwa kisah Ramayana dan Mahabarata itu merupakan wahyu Ilahi.
 
Berdasarkan buku Minanur Rahman dan Arabic The Source Of All The  Langguages yang menyatakan bahwa bahasa Arab itu merupakan induk semua bahasa. Dengan demikian, berdasarkan teori itu kemungkinan penamaan Wayang itu diambil dari kata Arab “wachyan” artinya wahyu atau firman Tuhan. Jadi, nama figur dan kisah dalam Ramayana dan Maha Barata itu pada mulanya berasal dari wahyu Ilahi. Sedangkan Dalang, yang memainkan wayang tersebut berasal dari kata Arab “Dallan” artinya penuntun atau penunjuk jalan. Jadi, Dalang itu adalah orang yang mempertunjukan kisah tentang wayang yang bernuansa petunjuk-petunjuk Tuhan untuk manusia, baik dalam urusan pribadi, keluarga, pemerintahan, Negara, hubungan internasional, peperangan dan sebagainya.
 
Inti kisah Maha Barata adalah menceriterakan keturunan Pandu Dewanata yang dikenal dengan Pandawa lima, yaitu : Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa yang mengisyaratkan kepada Lima Rukun Islam.
 
Yudhistira merupakan rangkaian dari kata “Yudh, is dan tira”. Yudh kependekan dari kata ‘Yudha” artinya  jihad atau perang; Is kependekan dari kata “Islam” dan Tira merupakan kependekan dari kata “Tirakat”. Jadi, Yudhistira itu mengisyaratkan kepada “Kalimah Syahadat” Rukun Islam yang pertama. Maksudnya adalah seseorang yang telah mengucapkan kalimah Syahadat (masuk agama Islam) berarti ia bertekad untuk memerangi hawa-nafsunya dan berupaya menaklukkannya agar ia dapat mengikuti kehendak Allah SWT, sebagai Tuhannya dan mengikuti Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya. Oleh karena itu Rasulullah SAW menyatakan bahwa jihad melawan hawa-nafsu itu merupakan jihad paling besar.
 
Bima merupakan rangkaian dari kata “Bi dan Ma”. Bi kependekan dari kata “Bisa” sedangkan Ma kependekan dari kata “Manunggal”. Jadi, Bima itu mengisyaratkan kepada “Shalat” rukun Islam yang kedua. Maksudnya, amalan shalat itu merupakan media bertemunya seorang hamba dengan Khaliqnya. Oleh karena itu Rasulullah SAW menyatakan bahwa seorang yang sedang menunaikan shalat hendaknya ia seakan-akan sedang melihat Tuhannya, tapi jika tidak dapat melihat-Nya, hendaknya ia merasa sedang dilihat Tuhannya.
 
Arjuna merupakan rangkaian dari kata Ar, ju dan na. Ar kependekan dari kata Arsa, artinya akan atau mengharapkan, Ju kependekan dari kata maju, dan Na kependekan dari kata rahina, artinya terang karena penerangan dari langit atau agama. Jadi, ARJUNA bermakna mengharapkan kemajuan atau kesuksesan ruhani (agama). Ini mengisyaratkan kepada ”Shiyam” atau Puasa sebagai rukun Islam ketiga. Maksudnya adalah amalan Puasa dapat membuat pelakunya berhati suci yang menyebabkan Tuhan berkenan mengaruniakan wahyu (petunjuk), sehingga hati menjadi terang-benderang.  Oleh karena itu sejarah membuktikan bahwa sebelum para nabi menerima wahyu, biasanya mereka melakukan puasa lebih dahulu (atau bertapa). Bahkan, dalam Al-Quran dinyatakan bahwa puasa itu juga diwajibkan  bagi umat para nabi sebelum Islam, sedangkan dalam Islam puasa ini wajib dilaksanakan setiap bulan Ramadhan, sebagaimana firman Allah berikut:
 
Wahai orang-orang yang beriman, puasa diwajibkan kepada kamu sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu mencegah diri dari kejahatan (Al-Baqarah, 2:184)
 
Nakula merupakan rangkaian dari kata “Na dan Kula”. Na kependekan dari kata “Trisna” artinya kasih-sayang, sedangkan Kula kependekan  dari kata “Kawula” artinya masyarakat. Jadi, Nakula itu mengisyaratkan kepada “Zakat” sebagai rukun Islam keempat. Maksudnya, memberikan zakat, infaq, sedekah, hadiah dan yang sejenisnya merupakan manifestasi dari cinta-kasih seorang muslim kepada sesama manusia sebagai makhluq Allah SWT.
 
Sadewa merupakan rangkaian dari kata “Sa dan Dewa”. Sa kependekan dari kata “Sangu” artinya bekal, De kependekan dari kata “Gede” artinya besar dan banyak, sedangkan Wa kependekan dari kata “Dawa” artinya panjang atau lama. Jadi, Sadewa itu mengisyaratkan kepada ibadah  “Haji” sebagai rukun Islam kelima. Maksudnya, ibadah Haji itu membutuhkan bekal yang besar dan untuk keperluan hidup dalam waktu yang panjang, disamping untuk biaya transportasi, terlebih bagi seorang muslim Indonesia yang jauh dari kota Mekkah, kerajaan Saudi Arabia.
 
Dengan demikian, jelaslah pada kita bahwa manifestasi rukun Islam terlihat pada Pandawa lima, yaitu: Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Rukun Islam yang lima tersebut telah  diajarkan dan diteladankan oleh Nabi Besar Muhammad SAW yang hingga sekarang dan sampai Hari Qiamat, akan senantiasa ditegakkan oleh umat Islam di seluruh dunia, insya Allah.

Tafsir Mukjizat Nabi Muhammad SAW

Saturday, September 10, 2011
oleh : Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad



Peristiwa bulan terbelah menjadi dua yang dapat disaksikan oleh mata telanjang, telah menyalahi hukum alam fisika ataupun tidak, sukar di sangkal, sedang peristiwa itu nampaknya kekurangan bukti-bukti sejarah yang meyakinkan. Pada pihak lain, tiada seorangpun dapat memberanikan diri mengakui telah menyelami semua rahasi alam. Adalah mustahil bahwa peristiwa  yang meluputi bagian besar wilayah bumi serupa itu, masih tetap tidak dimaklumi kalangan peneropong-peneropong bintang (para ahli observatori) di dunia ini, atau sama sekali tidak tercatat di dalam buku-buku sejarah. Akan tetapi, oleh karena peristiwa itu sungguh tercantum di dalam kitab-kitab hadis yang sangat terpercaya, seperti Bukhari dan Muslim, dan sebab dituturkan secara berkesinambungan dalam riwayat –riwayat yang sumbernya dapat dipercaya,  pula diriwayatkan oleh sahabat Rasulallah saw yang cendikia seperti Ibnu Mas’ud ra., peristiwa itu sungguh-sungguh menunjukkan bahwa gejala alam yang luar biasa pengtingnya itu niscaya telah terjadi di masa Rasulullah s.a.w.
Beberapa ahli tafsir Al-Quran diantaranya Razi, telah berusaha menguraikan masalah pelik itu dengan menyatakan bahwa peristiwa itu adalah gerhana bulan. Imam Ghazali dan Syah Waliullah juga berpegang pada pendapat bahwa pada hakikatnya bulan tidak terbelah, melanikan Tuhan telah mengatur demikian rupa sehingga bulan nampak kepada orang-orang yang menyaksikannya sebagai itu semacam gerhana bulan. Tetapi bagaimanapun, bila kita mengingat akan kuatnya bobot bahasa yang dipergunakan Alquran berkenaan dengan peristiwa itu, agaknya lebih daripada gerhana bulan biasa. Peristiwa itu sungguh-sungguh merupakan mukjizat besar yang ditampakkan oleh Rasulullah s.a.w. atas desakan orang-orang kafir (Bukhari dan Muslim). Agaknya peristiwa itu  merupalan suatu kasyaf Rasulullha s.a.w. yang beberapa sahabat dan beberapa orang kafir juga dibuat ikut serta di dalamnya. Tidak ubah halnya seperti peristiwa tongkat Nabi Musa berubah menjadi ular pun adalah kasyaf (rukya), yang para ahli sihir dibuat ikut serta di dalamnya. Atau  boleh jadi seperti halnya pemukulan air laut yang dilakukan oleh Nabi Musa as. Dengan tongkat beliau, bertepatan dengan saat pasang surut, dan dengan demikian merupakan suatu mukjizat.  Begitu pula boleh  jadi Tuhan telah memerintahkan Rasulullah s.a.w. agar memperlihatkan mukjizat pembelahan bulan, pada saat ketikan suatu benda langit mengambil posisi di depan bulan demikian rupa sehingga bulan nampak kepada orang-orang yang menyaksikan sebagai terbelah menjadi dua bagian. Tetapi keterangan yang paling dapat diterima dan juga mengandung makna keruhanian yang sangt mendalam, terletak pada kenyataan, bahwa bulan adalah lambang kebangsaan orang Arab dan lambang kebangsaat orang-orang Parsi.
Tatkala Situ Syafiyah r.a., anak perempuan Huyay bin Akhtab, pemimpin orang-orang Yahudi dan Khaibar menceritakan kepada ayahnyam bahwa beliau melihat mimpi, bulan telah jatuh ke atas pangkuan beliau, sang ayah menampar muka beliau seraya berkata, bahwa rupanya beliau mengingingkan kawin dengan pemimpin bangsa Arab. Sesudah Khaibar jatuh, impian Siti Syafiyah menjadi sempurna, ketika beliau dipersunting oleh Rasulullah s.a.w. (Zurqani & Usud al-Ghabbah).
Begitu pula Siti ‘Aisyah pernah melihat dalam mimpi, bahwa tiga buah bulan jatuh ke dalam kamar pribadi beliau dan impian itu telah menjadi kenyataan ketika di sana jasad Rasulullah s.a.w., Abu Bakar r.a., dan Umar r.a.,  berturut-turut dikebumikan (Mu’athatha, Kitab al-Jana’iz). Makna simbolis bagi kata qomar, ayat ini mengandung arti, bahwa saat kehancuran kekuasaan politik mereka, yang karenanya orang-orang kafir telah diperingatkan dalam 53:58, telah tiba. Kata saat dalam hal ini, mungkin mengisyaratkan kepada pertempuran Badar, yang di dalam pertempuran itu hamper semua kepala dan pemimpin kabilah Qiraisy terbunuh dan dasar kehancuran mutlak kekuatan mereka telah diletakkan. Dengan demikian ayat ini merupakan nubuatan hebat, yang telah menjadi genap dengan ajaibnya kira-kira dalapan atau Sembilan tahun sesudah nubuatan itu diumumkan. Teristimewa pula, menurut beberapa penulis, ungkapan bahasa Arab, “insyaqqa al-qamaru” berarti, bahwa saat kehancuran kekuasan kaum Quraisy telah tiba, dan kemudian akan menjadi nampak bahwa Rasulullah s.a.w. seorang nabi Allah sejati.



Keagungan Dan Kerendahan Hati Rasulullah saw

Wednesday, March 30, 2011
        Kedua nama Nabi Suci saw yang berberkat yaitu Muhammad dan Ahmad memiliki dua keunggulan yang berbeda. Muhammad mengandung arti yang amat dipuji dan menggambarkan keagungan dan kebesaran serta menyiratkan seseorang yang dicintai karena hanya yang dicintailah yang selalu dipuji-puji. Adapun kata Ahmad menyiratkan seseorang yang mencintai karena merupakan bagian dari seorang pencinta untuk memuji dan ia selalu memuji sosok yang dikasihinya. Jika Muhammad menggambarkan keagungan dan kebesaran maka Ahmad menggambarkan kerendahan hati.
        Kehidupan beliau sebagai seorang Nabi terbagi dalam dua bagian, sebagian dihabiskan di Mekah untuk jangka waktu tigabelas tahun dan sebagian lainnya di Medina yang memakan waktu sepuluh tahun. Kehidupan beliau di Mekah menggambarkan segi nama Ahmad dari sosok beliau. Jangka waktu tersebut banyak dihabiskan dalam meratap dan memohon pertolongan di dalam doa. Barangsiapa yang memahami periode kehidupan Mekah dari beliau tentunya mengetahui betapa ratapan dan permohonan doa yang dilakukan beliau saat itu yang tidak ada padanannya pada pencinta lain yang sedang mencari kekasihnya. Ratapan beliau bukanlah untuk dirinya pribadi tetapi karena kesadaran beliau akan kondisi dunia pada saat itu. Zaman itu penyembahan Allah SWT telah sirna sedangkan Dia telah menanamkan keimanan dalam jiwa beliau yang memberikan kegembiraan dan kesukaan. Dengan sendirinya beliau ingin menyampaikan kegembiraan dan kasih ini kepada dunia, namun ketika beliau menyadari kondisi daripada dunia serta kemampuan dan fitrat manusia saat itu maka beliau menghadapi rintangan yang amat besar. Beliau menangisi kondisi dunia ini sedemikian rupa sehingga nyawa beliau pun terancam. Hal ini diindikasikan dalam ayat :
             “Boleh jadi engkau akan membinasakan dirimu sendiri dari dukacita karena mereka tidak mau beriman”. (Asy-Syuara, 26 : 4).
              Periode ini merupakan kehidupan berdoa beliau dan menjadi manifestasi dari nama beliau sebagai Ahmad. Setelah itu beliau mengkonsentrasikan diri secara agung dan konsentrasi ini menunjukkan efeknya pada kehidupan beliau di Medina ketika signifikasi nama Muhammad diungkapkan sebagaimana dinyatakan dalam ayat :
           “Mereka itu berdoa untuk kemenangan dan binasalah setiap musuh kebenaran yang merajalela lagi keras kepala itu”. (Ibrahim, 14 :16). {Malfuzat, vol. II, hal. 178-179}.

Pandangan Ahlussunnah wal Jamaah Tentang Kedatangan Nabi Isa alaihissalam

Pandangan ahlussunnah wal jamaah tentang kedatangan Nabi Isa alaihissalam yang dirujuk/dikutip dari buku Kemunculan Nabi Isa, Imam Mahdi & Dajal, karya Syeikh Mutawalli Sya’rawi, terjemahan, halaman 25 s/d 28, Qultum Media, 2006, menjelaskan sebagai berikut:

Dalam kitab Al-'Aqiidah Ath-Thahaawiyah, Imam Ath-Thahawi berkata, "Dan kami beriman kepada tanda-tanda kiamat yang di antaranya adalah munculnya Dajjal dan turunnya Isa putra Maryam a.s. dari langit." 

Dalam Maqaalaat Al-Islamiyiin, Abul Hasan Al-Asy'ari berkata, "Di antara sejumlah keimanan yang diyakini ahli hadits dan sunnah adalah: Beriman dengan menetapkan Allah, para malaikat, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya dan apa-apa yang datang dari Allah dan apa-apa yang diriwayatkan para perawi yang tsiqah dari Nabi s.a.w. tanpa mengingkari semua itu sedikit pun perkataan ini sampai dan membenarkan keluarnya Dajjal dan sesungguhnya Isa putra Maryam akan membunuhnya." 

Abu Muhammad Abdullah bin Abi Zaid Al-Qairawani Al-Maliki dalam risalahnya yang masyhur, ia berkata, "Dan beriman berdasarkan kabar yang tsabit tentang keluarnya Dajjal dan turunnya Isa a.s. untuk menegakkan hukum yang adil dan ia akan membunuh Dajjal ... " 

Abu Ahmad bin Al-Husain Asy-Syafi'i yang lebih dikenal dengan nama Ibnul Haddad dalam Kitab 'Aqiidahnya, ia berkata, "Tanda-tanda kiamat di mulai dari Dajjal, turunnya Isa a.s., keluarnya asap, Oabbah (sejenis binatang berkaki empat), matahari terbit dari arah Barat dan tanda-tanda lain berdasarkan sumber hadits yang shahih adalah sesuatu yang hak."

Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam Kitab 'Aqiidah-nya yang masyhur, ia berkata, "Wajib beriman kepada apa yang telah disampaikan Rasulullah s.a.w. sepanjang proses periwayatannya shahih, baik itu berhubungan dengan alam nyata maupun alam metafisik. Kami mengetahui bahwa apa yang telah disampaikan beliau itu adalah hak dan benar adanya sampai pada pernyataannya di antara tanda-tanda kiamat adalah: keluarnya Dajjal, turunnya Isa putra Maryam a.s. dan ia membunuh Dajjal, keluarnya Ya'juj Ma'juj, matahari terbit dari arah Barat, keluarnya Oabbah dan tanda-tanda yang lain berdasarkan hadits yang shahih." 

Ibnu Taimiyah berkata, "Ada suatu masalah antara pendapat Isa putra Maryam masih hidup (sampai sekarang), karena Allah mengangkat Isa dengan jasad dan ruhnya, dengan firman Allah, "Sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu." (QS. Ali Imran [3]: 55). Maksudnya Mutawaffika adalah Allah telah mematikanmu. Begitu pula telah tsabit kabar yang menyatakan bahwa Isa akan turun di menara putih di sebelah timur Damaskus, lalu Isa a.s. membunuh Dajjal, menghancurkan salib, membunuh babi, menggugurkan kewajiban membayar pajak dan hukum yang adil lagi bijaksana. Makna lafazh dalam ayat Tawaffa adalah Al-Istaifa' (bisa berarti menyampaikan sampai ajal), atau berarti meninggal, atau bisa jadi berarti tidur. Sehingga, makna suatu lafazh bergantung pada lafazh yang mengiringinya sehingga dapat disesuaikan artinya." 

Dalam Syarh Shahiih Muslim, Al-Qadhi Iyadh berkata, "Turunnya Isa a.s. dan keberhasilannya membunuh Dajjal adalah hak dan benar menurut Ahlu Sunnah karena hal tersebut bersumber dari banyak hadits yang shahih. Tidak ada dasar bagi akal dan syariat untuk mengingkarinya, sehingga wajib hukumnya untuk menetapkan kebenarannya. Namun sebagian kaum Mu'tazilah, kaum Jahmiyah dan orang-orang yang sependapat dengan mereka telah mengingkari bahwa Isa a.s. akan turun ke bumi lagi. Mereka menyangka bahwa semua hadits yang mengabarkan tentang turunnya Isa tidak bisa diterima. Dasar mereka adalah firman Allah, “Dan penutup Nabi-nabi” (QS. Al-Ahzaab [33]: 40) Rasulullah s.a.w. juga telah bersabda, “Tidak ada Nabi setelahku” Dan Ijma' kaum muslimin bahwa tidak akan ada lagi Nabi setelah Nabi kita Muhammad s.a.w., dan syariat beliau akan berlaku terus sampai kiamat tanpa ada yang menasakhnya." Cara mengambil dalil mereka dari ayat, hadits dan Ijma' ini adalah fasid (rusak atau tidak benar). Karena bukanlah maksud turunnya Isa itu sebagai Nabi dengan membawa syariat baru dengan menasakh syariat yang dibawa beliau. Dalam hadits-hadits tentang Isa a.s. turun ke bumi lagi tidak ada yang mengindikasikan kepada hal sebagaimana yang mereka pahami, bahkan semua hadits shahih ini dan hadits-hadits di depannya dalam Kitab Al-Iman dan yang lain telah mengabarkan bahwasanya Isa akan turun dengan hukum yang bijaksana dari syariat kita dan menghidup-hidupkannya kembali setelah ditinggalkan manusia."

Memahami referensi di atas mengindikasikan bahwa ahlussunnah wal jamaah sepakat tentang kedatangan kembali nabi Isa alahissalam di akhir jaman bukanlah nabi Isa alaihissalam yang dahulu pernah datang bagi Bani Israil. Namun nabi Isa alaihissalam akhir jaman, tetap berpangkat nabi yang mengemban sejumlah tugas dan melaksanakan syari’at Islam. Pemahaman ini mengkategorisasikan kepada seseorang atau segolongan orang yang meyakininya termasuk dalam golongan ahlussunnah wa jamaah

Dalam kasus Ahmadiyah, dengan mengenali pemahaman mereka tentang persoalan ini secara mendalam, maka mereka termasuk dalam golongan ahlussunnah wal jamaah atau dalam bahasa populer sebagai Islam Sunni, bukan Islam Syiah. Dengan demikian, ketika ada penggolongan baru dengan menyebut Islam Ahmadiyah bisa jadi akan menimbulkan persoalan baru, karena sejatinya mereka adalah ahlussunnah wal jamaah yang meyakini secara total, khususnya kepada nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, keyakinannya tanpa reserve. Apa yang disabdakan oleh nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam selalu diyakini mereka sebagai suatu kebenaran nubuwatan, apalagi hadist-hadist yang telah menjadi kenyataan. Perbedaanya adalah ketika menilai suatu kenyataan, bahwa sejumlah besar golongan Islam Sunni masih belum melihat nabi Isa alaihisslamam di akhir jaman telah datang sebagai kenyataan berada ditengah-tengah mereka.

Wallahualam bisshawab, semoga urun rembug ini bisa menjadi perenungan bersama.

Petunjuk Imam Shalat Dari Rasulullah SAW

I. Yang Berhak Menjadi Imam Shalat

 
اِجْعَلُوْا اَئِمَّتَكُمْ خِيَارَكُمْ فَاِنَّهُمْ وَفُدُكُمْ فِيْمَا بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ رَبِّكُمْ

"Jadikan olehmu untuk Imam kamu orang yang terpilih di antara kamu, karena mereka adalah perantara kamu dengan Tuhan kamu" (Darul Quthni)

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رض قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلعم : يَؤُمُّ القَوْمَ اَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ تَعَالَى ، فَاِنْ كَانُوْا فِى الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَاَعْلَمُهُمْ 
بِالسُّنَّةِ ، فَاِنْ كَانُوْا فِى السُّنَّةِ سَوَاءً فَاَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً ، فَاِنْ كَانُوْا فِى الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَاَقْدَمُهُمْ سِلْمًا . وَفِى رِوَايَةٍ : سِنًّا . وَلاَ يَؤُمَّنَّ 
الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِى سُلْطَانِهِ ، وَلاَ يَقْعُدْ فِى بَيْتِهِ عَلىَ تَكْرِمَتِهِ اِلاَّ بِاِذْنِهِ 

Dari Ibnu Mas'ud ra. dia berkata : Rasulullah saw berkata : Orang yang paling pandai membaca Al-Qura'an yang akan menjadi Imam Bangsanya. Bila kepandaian mereka dalam bacaan Al-Qur'an sama maka yang paling mengerti tentang hadist. Bila pengertian mereka tentang hadist sama maka yang paling dahulu hijrah. Bila waktu hijrah bersamaan maka yang paling dahulu masuk Islam. Dalam riwayat lain yang paing tua.

"Jangan sekali-kali menjadi Imam atas laki-laki dalam tanah kekuasaan laki-laki itu. Dan jangan duduk di atas tempat kehormatannya yang ada dalam rumahnya kecuali seizin dia"
(Muslim Tirmidzi Nasa'i Ibnu Majah Abu Daud Jilid I No. 55o, Hal 392).


II. Imam Yang Tidak Disenangai Jamaah


عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو : اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُوْلُ : ثَلاَثَةٌ لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُمْ صَلاَةً : مَنْ تَقَدَّمَ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُوْنَ, وَرَجُلٌ اَتَى الصَّلاَةَ دِبَارًا, وَالدِّبَارُ اَنْ يَأْتِيَهَا بَعدَ اَنْ تَفُوْتَهُ, وَرَجُلٌ اِعْتَبَدَ مُحَرَّرَهُ


"Dari Abdullah bin Amr ra bahwa Rasulullah saw sering bersabda : "Tiga golongan orang yang tidak diteruma sahalatnya yaitu :
  1. Orang yang maju ke depan untuk menjadi imam, sedangkan mereka membenci mereka
  2. Orang yang biasa mengerjakan shalat belakangan yaitu mengerjakan setelah shalat berlalu
  3. Orang yang memperbudak seorang budak
( Abu Daud Jilid I. No. 564, Hal 400-401)


III. Apakah Pendatang Menjadi Imam Shalat Diperbolehkan ?


عَنْ اَبِى عَطِيَّةَ وَهُوَ الْعُقَيْلِىُّ, مَوْلاَهُمْ قَلاَ : كَانَ مَالِكِ بْنُ حُوَيْرِثٍ يَأْتِيْنَا اِلَى مُصَلاَّنَا هَذَا, فَاُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ, فَقُلْنَالَهُ : تَقَدَّمْ فَصَلِّهْ, 
فَقَالَ لَنَا : قَدَّمُوْا رَجُلاً مِنْكُمْ يُصَلَّى بِكُمْ وَسَاُحَدِّثُكُمْ لِمَ لاَ اُصَلِّى بِكُمْ ؟ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : مَنْ زَارَ قَوْمًا 
فَلاَيَؤُمَّهُمْ رَجُلٌ مِنْهُمْ


"Dari Abu Athiyah salah seorang maula di antara kamu dia berkata : Pernah Malik bin Huwarinis ra datang berkunjung ke mushola kami ini. Lalu bersiap shalat dibacakan iqomat. Maka kami berkata kepadanya : Majulah salah seorang di antara kamu untuk mengerjakan shalat bersama kamu  lalu aku akan mengikuti kepadamu mengapa tidak akan mengerjakan shalat bersama kamu (sebagai imam) yaitu aku pernah mendengar Rasulullah saw : Barang siapa berkunjung kepada suatu kaum maka janganlah dia menjadi imam mereka, tapi hendaklah salah seorang di antara mereka yang menjadi imam (shalat) mereka.
(Abu Daud Jilid I. No. 567, Hal 402. Hadist ini dikeluarkan oleh Tirmidzi dan Nasai)